021 2215 7991
kurikulumsmapl@gmail.com
Jl. Tol Jakarta-Cikampek Km 37
blog-img
20/09/2022

Hari Jadi Konggregasi Bruder FIC

Administrator | Pendidikan

Halo Sahabat Hoecken

Hari ini, Selasa tgl 20 September 2022, adalah hari yang baik, istimewa untuk kita bersama. Mengapa? Karena pada tgl 20 September 1920, 5 BRUDER FIC, tiba di Yogyakarta, 5 bruder FIC ini memulai berkarya untuk anak atau orang Jawa (pada waktu itu) selanjutnya berkembang ke berbagai kota, termasuk termasuk sampai sekarang berada di Deltamas.

Berikut penulis sampaikan Sekilas Tentang Bruder FIC yang dikutip dari https://bruderfic.or.id/sekilas-tentang-bruder-fic/

Pendiri: Ludovicus Rutten

Ko-Pendiri, Bruder pertama: Bernardus Hoecken

Tempat pendirian: di kota Maastricht, Negeri Belanda

Tanggal: 21 November 1840

Nama lengkap: Congregatio Fratres Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis (FIC)

Nama Indonesia: Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Yang Dikadung Tak Bernoda (Bruder FIC)

1. Latarbelakang Berdirinya Kongregasi

Kongregasi Para Bruder FIC, yang dalam bahasa Latin Congregatio Fratres Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis, sedangkan dalam bahasa Inggris Congregation of the Brothers of the Immaculate Conception of the Blessed Virgin Mary, didirikan oleh Pastor Ludovicus Rutten 21 November 1840 di kota Maastricht, Belanda. Maastricht terletak di Belanda bagian paling selatan, dilintasi sungai Mas. Sejak abad pertengahan kemakmuran penduduk kota ini mengalami pasang surut. Pada abad kedelapan belas, kesejahteraan semakin meningkat, tetapi peningkatan ini tidak serta-merta menyediakan kehidupan ekonomis yang layak bagi semua penduduk yang jumlahnya semakin banyak. Jumlah penduduk miskin dan yang memerlukan bantuan bertambah banyak. Kebanyakan dari mereka buta huruf.

Pada tahun 1837, industri modern semakin berkembang di Maastricht. Banyak pabrik didirikan dan memaksa para pekerja untuk bekerja siang dan malam. Perempuan dan anak-anak juga dilibatkan. Upah mereka rendah. Sebagain besar pekerja hidup di bawah ukuran kelayakan. Jika sebuah keluarga menginginkan untuk dapat sekedar bertahan hidup, para ibu dan anak-anak mereka harus bekerja di rumah. Kondisi rumah mereka sangat buruk dan tidak higienis. Situasi tersebut sangat merugikan bagi perkembangan anak-anak, baik secara fisik maupun psikologis. Banyak anak berkeliaran di jalan-jalan, dan hari ke hari mereka keluar dari rumah mereka sampai bapak dan ibu mereka pulang dari kerja. Kondisi tersebut mengakibatkan banyak anak yang mengalami kekosongan rohani.

2. Tokoh Pendiri Kongregasi

Situasi kota Maastricht yang seperti tersebut diatas mendorong Loduvicus Rutten, mengabdikan diri bagi pembinaan dan pendidikan anak-anak, terutama mereka yang miskin dan terlantar. Mulailah Pastor Rutten seijin pastor kepala Gereja St. Servatius, mengumpulkan anak-anak di samping sakristi Gereja, mula dari 3 anak dan dalam waktu singkat jumlah mereka bertambah banyak. Mengingat begitu banyaknya anak-anak yang didampingi, maka Rutten memulai dengan mencari bantuan dari kaum religius. Setelah melalui pelbagai upaya, akhirnya Frans Donkers, seorang pemuda dari Den Bosch menanggapi ajakan Rutten untuk memulai membentuk kongregasi. Setelah dua bulan Frans Donkers “dititipkan” di biara Bruder Karitas (FC) di Sint Truiden, ia meninggal dunia karena sakit. Dialah ‘putra pertama’ Kongregasi FIC. Pemuda berikutnya yang tertarik dengan proyek Rutten adalah Jocabus Adrianus Hoecken. Dia juga dititipkan di Sint Truiden untuk menjadi postulan. 10 Agustus 1840 dia dan temannya menerima jubah yang menandai masa novisiatnya secara resmi. Masa novisiat tersebut berlangsung pendek sekali, sebab pada tanggal 17 November tahun yang sama Rutten memanggil mereka ke Maastricht untuk memulai dengan pendirian kongregasi baru. 21 November 1840, ruangan yang dipakai sebagai kapel di rumah In De Rode Leeuw, diberkati pastor kepala paroki, lalu Rutten mempersembahkan ekaristi untuk pertama kalinya dengan para pengikutnya. Sejak itu, tanggal 21 November 1840 dipandang sebagai hari pendirian kongregasi FIC.

Pada awal berdirinya kongregasi, Br. Bernardus Hoecken (bruder FIC pertama), menjadi pemimpin pertama komunitas pertama kongregasi FIC. Pada waktu itu, dia sendiri masih seorang novis, sedang teman-teman sekomunitasnya masih berstatus sebagai calon bruder (aspiran). Pada tahun 1842, dia termasuk bruder pertama yang mengucapkan prasetia mereka. Bertahun-tahun lamanya, dia bersama Pastor Rutten memimpin persekutuan yang semakin berkembang. Sama seperti Pastor Rutten, dia merasa bahwa prioritas kerasulan adalah pendidikan dan pembinaan Kristiani.

3. Perkembangan Kongregasi

Kongregasi Bruder FIC sejak awal didirikannya tidak dimaksudkan untuk menjadi kongregasi misi, yang berkarya di luar negeri Belanda. Tetapi dalam laporan tahunan 1912, dengan hati-hati haluan kebijakan diubah sedikit: karya misi akan dibuka jika sekiranya akan ada tanda jelas dari Tuhan bahwa itu pun termasuk karisma dan tugas pengutusan kongregasi. Sudah lama dan sering ada permohonan dari seluruh penjuru dunia untuk mengutus bruder-buder FIC ke pelbagai daerah misi. Permohonan semacam itu selalu ditolak oleh Dewan Umum (pemimpin Para Bruder FIC yang berkedudukan di Maastricht Belanda) dengan alasan kekurangan tenaga dan kekurangan dana untuk membiayai karya misi. Menjelang tahun 1920 ketika jumlah anggota kongregasi makin bertambah banyak dan keadaan finansial makin bertambah kuat, dengan adanya subsidi penuh dari pemerintah Belanda untuk semua sekolah FIC. Sejak itu Kongregasi FIC ikut dibawa arus misioner yang kuat yang melanda umat Katolik Belanda, mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah ke luar negara lain yang belum mengenal Kristus.

Pada tanggal 28 Desember 1919, ketika dirayakan pesta berdirinya 75 tahun kongregasi, ada pengumuman dari Dewan Umum bahwa pada tahun berikutnya akan dibuka rumah FIC di Yogyakarta di tanah Jawa. Dengan tujuan mendirikan sekolah-sekolah untuk mendukung karya misi Katolik di kota itu. Dengan adanya sekolah Katolik, umat yang baru bertobat (menjadi Katolik) pasti akan diteguhkan dalam pilihan agama mereka. Tujuan itu mirip sekali dengan tujuan yang dicita-citakan oleh Para Pendiri Kongregasi pada tahun 1840, yakni Pastor Rutten dan Bruder Bernardus Hoecken. Keduanya bercita-cita mendirikan sekolah Katolik sebagai sarana jitu untuk mendalami dan memelihara agama Katolik.

Dari 113 bruder yang mendaftarkan diri ke Dewan Umum untuk menjadi misionaris di Jawa, akhirnya pada pesta Paskah 1920 dimeriahkan dengan diumumkannya 5 bruder yang diutus menjadi misionaris, yakni Br. August, Br. Lebuinus, Br. Eufrasius, Br. Constantius, dan Br. Ivo. Pada hari Minggu, 8 Agustus 1920, sesudah misa agung di biara Induk De Beyart di Maastricht, Br. August dilantik sebagai pemimpin Komunitas FIC St. Fransiskus Xaverius di Yogyakarta. Kemudian 14 Agustus para misionaris pertama naik kapal Wilis dari Rotterdam, menuju apa yang pada masa itu bernama Batavia (sekarang Jakarta). Tanggal 19 September mereka sampai di Tanjung Priok dan dijemput oleh Pastor van Lith. Kelima bruder menginap semalam di Gereja Katedral dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan kereta api. 20 September sore, para bruder tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta dan dijemput pastor Hoeberechts, seperior misi. Sesudah disambut di pastoran Kemementstraat (pastoran Kidul Loji sekarang), para bruder diantar ke rumah yang sekarang dikenal dengan Bruderan FIC Fransiskus Xaverius, Jl. P. Senopati 18 Yogyakarta. Sejak itu, tanggal 20 September dikenang sebagai tanggal hadirnya Para Bruder FIC di Provinsi FIC Indonesia.

Bagi Anda tertarik lebih lanjut dengan Kongregasi FIC silahkan kunjungi web kami: www.bruderfic.or.id.

Untuk kontak lebih lanjut silahkan hubungi Bruder Pemimpin Provinsi FIC Indonesia dengan alamat Jl. Sultan Agung 133 Semarang 50234 dan telepon 024 – 8312547 atau Tim Promotor Panggilan Br. Agus Parno HP: 0821 2554 2717

Bagikan Ke: